Jatiluwih Agriculture Festival 2017

PENEBEL - Subak merupakan sistem irigasi sawah khas Bali yang telah dianugerahi status sebagai Warisan Dunia untuk kategori lanskap budaya dari UNESCO dimana kawasan Catur Angga Batukaru, Jatiluwih menjadi satu kesatuan dengan tiga kawasan lainnya di Gianyar dan Badung. Pengakuan ini tidak terlepas dari peran subak yang telah ribuan tahun menjaga eksistensi pertanian di Bali. Bagi masyarakat di kawasan Catur Angga Batukaru, khususnya Jatiluwih, pengakuan internasional itu menjadi momentum kebangkitan pertanian.

Dalam upaya melestarikan subak sebagai sebuah tradisi adiluhung, Manajemen DTW Jatiluwih sejak 22 Mei lalu menggelar even Jatiluwih Agriculture Festival. Menurut Manager Operasional DTW Jatiluwih I Nengah Sutirta Yasa, S.E festival pertama ini mengangkat tema Memica Manik Galih. Tema ini diambil dari tradisi masyarakat Jatiluwih yang berarti mensyukuri anugerah dan kemakmuran alam semesta. “Disamping untuk melestarikan subak secara sekala niskala, kami berharap sebagai destinasi wisata, kawasan Jatiluwih semakin dikenal wisatawan” Ujarnya, Minggu (4/6/2017),

Diterangkan, pembukaan Jatiluwih Agriculture Festival akan dilaksanakan pada 16 Juni 2017 diisi beragam parade seni tentang pertanian. “Kami akan tampilkan parade sejak mengolah sawah sampai panen.

Ia memaparkan, selain rangkaian parade pertanian, saat acara pembukaan diisi pula dengan pentas seni budaya, pementasan Baleganjur, parade Gebogan, fragmentari Dewi Sri dan atraksi memanen oleh undangan bersama petani. Esoknya pada 17 Juni, akan ditampilkan parade subak alat pertanian dilanjutkan dengan atraksi mapag toya. Pada 18 Juni selain parade akan dipentaskan tari Barong Bangkung yang bermakna sebagai penangluk merana.

Pada 24 - 26 Juni digelar atraksi membajak menggunakan kerbau dimana pesertanya adalah panitia dan tamu yang berkunjung pada saat itu. Sedangkan pada 27 - 28 Juni  ada atraksi menangkap belut.

Seluruh rangkaian festival diakhiri dengan Persami Budaya yang dikuti oleh siswa SMA dan SMP di Kecamatan penebel yang masing-masing sekolah mengirimkan peserta 30 orang.

Pria pemilik restauran Gong Jatiluwih ini berharap, festival perdana ini memberikan dampak positif bagi perkembangan pariwisata kawasan Jatiluwih. “Kami optimis karena ada dukungan penuh dari masyarakat di kawasan Catur Angga Batukaru” Pungkasnya. (*/P)

 

 

 

Komentar