Pura Aseman, Pura Kawitan Subak

SELEMADEG - Sebagai pura Kawitan Subak, Pura Aseman nyaris luput dari perhatian masyarakat.

Disebut sebagai Pura Kawitan Subak, berda-sarkan peninggalan arkeologi Pura Aseman seperti Nawasangapadma dan situs palungan air, kemudian dari kutipan purana serta penuturan tetua Humagati, dan penuturan tokoh adat, Pura Aseman adalah cikal bakal kelahiran subak di Bali. Secara keilmuan hal ini sangat logis karena Aseman adalah subak terluas di Bali dan berada di-hamparan Humagati (dikenal dengan Megati) yang artinya sepanjang mata meman-dang terdapat hamparan sawah.

Pura Aseman tepatnya berada di Banjar Adat Aseman masuk wilayah Banjar Dinas Cepaka, Desa Manikyang Kecamatan Selemadeg. Berada di-ketinggian kurang lebih 400 meter di atas permukaan laut dengan suasana yang sejuk. Untuk mencapai pura ini Jaya Pos sengaja memakai jalur napak tilas Desa Megati – Banjar Cepaka, Jumat (31/3/2017).

Jalan dari Megati sampai ke Banjar Dinas Cepaka, jalannya sudah mulus, dihotmik. Namun jalan masuk menuju pura, jalannya kondisinya cukup memprihatinkan. Disebut memprihatinkan karena jalan ini, menuju salah satu pura penting, pura yang penuh sejarah.

Dalam perjalanan napak tilas ini, Jaya Pos didampingi tokoh setempat Nyoman Sumartana. Ia mengisahkan bahwa berdasarkan prasasti Raja Purana Klungkung (Saka 994 / 1072 Masehi) memuat kata “kasuwakara”, asal kata “suwak”, yang bermakna “subak”. Kata “Subak” pertama kali muncul dalam prasasti Pandak Bandung 1072 M. Lontar Markandeya Purana mendokumentasikan asal muasal Desa dan Pura Besakih, pertanian, irigasi, dan subak. Saat Pura Besakih didirikan Resi Markandeya pada awal abad ke-11 M, sejatinya subak telah eksis di Bali.

Tradisi pertanian “modern” ala Majapahit berawal dari Trowulan dengan peninggalan Kolam Segaran untuk pengairan kotaraja dan pertanian Majapahit. Budaya pertanian Majapahit diboyong ke Bali seperti halnya kini orang Bali yang bertransmigrasi. “Surya Majapahit” yang menjadi simbol dan panji kerajaan berupa pengideran Nawasanga diimplementasikan di Pura Aseman dengan membangun Nawasangapadma (Padmasana Rong Sia) menjadi peninggalan monumental budaya bertani.

Terkait dengan Tri Mandala, Sumartana memaparkan Pura Aseman sebagai Madya Mandala. Sedangkan Utama Mandalanya adalah Pura Jatiluwih yang berlokasi di Sarinbwana. Sedangkan Kanista Mandalanya adalah Pura Segara Samulungan yang terletak di Pantai Abiankapas Desa Beraban.

“Jadi ketiga pura ini merupakan Tri Mandala kawasan tengah Kabupaten Tabanan” Jelasnya.

Menurut Sumartana, Tabanan sebagai lumbung pangannya Bali, mengambil langkah untuk mengembalikan kejayaan subak dengan memberikan perhatian kepada kaitan subak di Bali, yakni Pura Aseman. Perhatian menjadi keniscayaan sebagai aktualisasi untuk menyelamatkan pertanian Tabanan pada khususnya. Dalam hal ini tetap mengacu pada Konsep Tri Hita Karana, berpedoman pada Parahyangan, Pawongan dan Palemahan. Parahyangan spiritnya berpusat Pura Aseman cikal bakal kelahiran Subak Bali, Pawongan yakni masyarakat Bali yang mayoritas petani dan Palemahannya diwakili oleh Aseman sebagai Subak terluas Bali.

“Seperti petuah jangan melupakan kawitan, maka saatnya para pemegang kebijakan memberikan perhatian dengan keberadaan pura dan lingkungannya” Harap Sumartana. (*/P)

Komentar