Desa Pekraman Utu Penebel Merehab Pura Puseh melalui Dana Punia

PENEBEL - Sebagaimana tersurat dalam Bhisama Pandita, dana punia disebutkan sebagai pemberian tulus ikhlas sebagai salah satu bentuk pengamalan ajaran dharma yang harus dihayati dan diamalkan.  Dari pemahaman itulah, Bendesa Pekraman Utu, Nengah Seriawan, S.Ag. MSi. mencoba mengajak seluruh krama desa untuk mepunia dalam setiap kegiatan keagamaan.

Konsep mepunia ini sudah ia terapkan  sejak 4 tahun lalu, ketika dipercaya menjadi Bendesa Utu. Menurut guru SMP Negeri 3 Baturiti ini, ajakan mepunia ini dirasa jauh lebih efektif dari kebiasaan selama ini yaitu kena peturunan wajib. “Semangatnya jauh berbeda, jika dalam peturunan krama merasa seperti dipaksa sedangkan dalam punia, mereka melakukan dengan ikhlas” kata Seriawan, Selasa (13/9/2016).

Demikian juga ketika dilaksanakan perehaban Pura Puseh. Biaya perehaban mencapai 700 juta diperoleh murni dari hasil mengumpulkan dana punia krama dan sumbangan pihak lain. “Kami membangun tidak kena urunan, semua dari dana punia” Imbuhnya.

Didampingi Ketua Panitia I Wayan Sukarata, S.Pd, Seiawan menjelaskan pembangunan Pura Puseh Utu dilaksanakan secara gotong royong dan sudah dipelaspas pada 1 September 2016 lalu. Selama pembangunan, masyarakat bersatu padu dengan semangat ngayah. “Saat pemelaspasan terasa ada aura berbeda, suatu aura positif yang menyertai prosesi upacara dari awal sampai akhir” Imbuhnya.

Lebih jauh dipaparkan, membangun dengan dana punia itu jauh lebih bernilai karena dilakukan dengan ikhlas. “Dulu kami memakai sistem peturunan, ternyata krama seperti merasa dipaksa sehingga mengganggu jalannya yadnya” paparnya.

Menurutnya, dana punia menumbuh kembangkan sikap mental yang tulus pada diri pribadi dalam melaksanakan yadnya. “Rasa memiliki juga tumbuh dengan sendirinya” Pungkas Seriawan. (*/P)

Komentar