DTW Jatiluwih Bagikan Pendapatan 6 Milyar Lebih

PENEBEL - Seperti diketahui, keunikan teknologi subak inilah maka Badan PBB yang menangani kebudayaan dan pendidikan, Unesco, pada 2012 lalu menjadikan Jatiluwih sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia (WBD). Jatiluwih masuk sebagai salah satu kawasan subak WBD bersama daerah lain seperti Pura Taman Ayun di Mengwi, aliran Tukad Pakerisan di Gianyar, dan Danau Batur, Bangli. Semua dalam satu garis subak.

Dua tahun kemudian, tepatnya 13 Pebruari 2014, Pemkab Tabanan membentuk Badan Pengelola, yang saat itu diresmikan langsung oleh Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti,S.Sos.  Dimana penetapan DTW Jatiluwih sebagai WBD mencakup 14 subak, 11 desa dinas, 9 desa adat serta dengan Catur Angga Batukau. Dimana secara keseluruhan subak tersebut memiliki luas 2.372 ha, kebun 3.545 ha, hutan 9.316 ha, pemukiman 317 ha, serta semak dan tegalan 475 ha dengan luas total 17.336 ha.

Setelah dua tahun berdiri, Sabtu (13/2) Ketua Badan DTW Jatiluwih Nengah Kartika, disela-sela perayaan ulang tahunnya, menyatakan kalau dalam dua tahun, 2014-2015, DTW Jatiluwih membukukan pendapatan sebesar Rp. 6 Milyar lebih, yang dibagikan kepada 3 desa dan 3 subak di Jatiluwih yakni, Desa Dinas, Desa Adat Jatiluwih,Desa Adat Gunungsari, Subak Jatiluwih, Subak Abian Gunungsari dan Subak Abian Jatiluwih.

Dikatakan Nengah Kartika dalam sambutannya mengatakan, selama 2 tahun berdiri, DTW Jatiluwih terus berkomitmen untuk membuat terobosan-terobosan baru agar DTW Jatiluwih tetap bisa menjadi salah satu Ikon pariwisata di Kabupaten Tabanan. "Kami selalu berkomitmen mengharumkan nama Tabanan dengan potensi yang kami miliki. Karenanya kami butuh bantuan serta kerjasama semua pihak," ungkapnya.

Dirinya berharap ke depan DTW Jatiluwih bisa memiliki kantor sendiri agar  manajemen bisa berjalan maksimal. Selain itu dirinya juga berharap perbaikan infrastruktur bisa segera dilakukan agar kunjungan wisatawan terus bertambah. "Infrastruktur merupakan prioritas utama kami, karena hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan,"imbuhnya.

Pihaknya berharap DTW Jatiluwih bisa jadi satu akses dengan DTW  Ulundanu,  DTW Tanah Lot dan Batukaru. " Kami ingin menajdi satu akses dengan DTW Ulundanu, Tanah Lot dan Batukaru dengan menjadi ikon pariwisata di Tabanan dan kami terus berkomitmen menjaga kelestarian potensi alam yang kami miliki," imbuhnya. (***/Put)

Komentar