Panen Raya Salak Gula Pasir : Harga Anjlok Petani Menjerit

PUPUAN - Salak Gula Pasir kini menjadi salah satu maskot oleh-oleh dari Dewata ini. Salak ini termasuk salah satu kultivar salak bali. Rasa buahnya sangat manis sehingga diibaratkan dengan rasa gula pasir namun ukuran buahnya tergolong lebih kecil dibandingkan salak Bali. Kamis (13/2) lalu, Jaya Pos diundang untuk melihat langsung perkebunan salak Bali di Desa Munduk Temu Kecamatan Pupuan, Tabanan. Saat ini petani salak gula pasir sedang panen raya. Sungguh memberi kesan fantastik. Namun seperti umumnya nasib petani dimana saja, sukses dalam produksi tidak diikuti sukses dalam pemasaran. Petani salak gula pasir di Desa Munduk Temu yang tergabung dalam Kelompok Tani Kerta Sari harus gigit jari karena saat masa panen ini, harga serta merta melorot tajam. Sesungguhnya harga salak gula pasir bisa mencapai empat puluhan ribu namun pada masa  panen ini harganya hanya berkisar delapan ribuan rupiah di tingkat petani.

“Ya begitulah, kami tidak bisa berbuat banyak dengan mekanisme pasar” Ujar Wayan Sarma, Ketua Kelompok Kerta Sari Desa Munduk Temu.

Tentang harga yang merosot menurut Sarma selain karena panen raya juga dikarenakan adanya petani salak gula pasir yang menjual produknya dengan harga rendah sehingga harga di pasar menjadi jatuh. Bahkan ada harga dipasar lokal hanya mencapai lima ribu rupiah.

“Kalau dihitung harga yang ideal adalah paling rendah sepuluh ribu” Jelas pria kelahiran Angga Sari, 10 Nopember 1977.

Untuk mengantisipasi merosotnya harga ia berharap adanya peran serius pemerintah dalam membantu petani, khususnya petani salak. Jika dimungkinkan perlu dtetapkan harga dasar minimal, sehingga petani merasa terlindungi termasuk memberikan solusi dalam pemasaran.

 ‘’Menghadapi hal ini kita hanya bisa pasrah, mau apalagi,’’ ujar Sarma, suami Kadek Sumini ini.
.Ia menuturkan, kelompok tani Kerta Sari berdiri pada 10 Juni 2003 sebelum bergerak dalam budi daya salak gula pasir awalnya mulai dari usaha peternakan kambing. Dalam perkembangannya, Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan memberikan alternatif tambahan untuk menanam salak gula pasir. Selama kurang lebih 10  tahun terakhir produk salak gula pasir memberikan hasil yang cukup baik namun masalah mulai muncul ketika produk berlimpah seperti sekarang.

Tentang pamasaran, Sarma menjelaskan masih mengandalkan pasar modern seperti supermarket dan hypermarket lainnya. Namun karena produksinya melimpah, harga otomatis turun drastis dimana dalam situasi ini petani tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti harga yang diminta.

“Kalau kami tidak mau, buah akan membusuk dan rugi total” Tandasnya.

Ia juga berpendapat pemerintah bisa memberikan alternatif lain seperti perbaikan infrastruktur jalan yang bisa mempengaruhi harga produk. Disamping itu bisa melalui program kemitraan dengan pengusaha wine atau sejenisnya sehingga produk yang melimpah tidak terbuang percuma.

“Desa Agrowisata juga patut menjadi pilihan sehingga pengunjung bisa memetik langsung di kebun sehingga petani bisa mendapatkan tambahan penghasilan” Harapnya. (Jpr)

Komentar