Museum Ogoh-Ogoh Soka Sepi Pengunjung

SELBAR - Museum rupanya masih belum menjadi budaya di hati wisatawan yang berkunjung ke Bali. Itu tergambar di Museum Ogoh-ogoh Sirnankara Taman Wisata Soka Indah yang berada di tengah-tengah kawasan Pantai Soka, Kecamatan Selemadeg Barat. Museum Ogoh-ogoh yang pada 2012 dipresentasikan dihadapan Bupati Tabanan sebagai program unggulan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tabanan, gagal menarik kunjungan wisatawan sesuai rencana. “Ya pengunjung museum memang sepi, mungkin karena kurangnya segi pemasaran atau promosi” Ujar Wayan Parya salah seorang Supervisor Taman Wisata Soka Indah, Minggu (9/2).

Museum Ogoh-ogoh Sirnankara lahir dari gagasan Kooeswintoro Direktur Utama Grafika group perusahaan yang bergerak di bidang pendidikan dan pariwisata. Gagasan pengusaha Tionghoa itu setelah melihat adanya kegiatan parade ogoh-ogoh di Bali setiap tahunnya dalam menyambut hari raya Nyepi. Gagasan meluncur karena merasa sayang ogoh-ogoh yang merupakan hasil karya kreatif dengan biaya ratusan juta itu usai diarak kemudian dibakar. Padahal sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk atraksi wisata. Ia kemudian mendirikan Museum Ogoh-ogoh sebagai wujud apresiasi terhadap seni dan kreatifitas seni kaum muda Bali.

Museum ogoh-ogoh yang terletak di sisi barat kawasan Soka Indah dibangun diatas tanah seluas setengah hektar dengan akses jalan khusus menuju pantai. Area museum yang berdampingan dengan deretan bungalow terdapat 20 bangunan berukuran sekitar 6x5 meter dengan tinggi sekitar 3 meter.

Saat Jaya Pos berkunjung ke museum yang dibuka Mei 2013, dengan membayar tiket masuk sebesar 5 ribu. Sesampai di lokasi museum, tidak ada satupun pengunjung museum yang menikmati 16 ogoh-ogoh yang dipajang. Lantai bangunan sepertinya kurang perawatan, dipenuhi debu dan daun-daun kering yang beterbangan. Filosofi menjadikan museum ini untuk bahan introspeksi sambil berekreasi, nyaris tak bisa diwujudkan. Jika manajemen Soka Indah gagal menarik minat masyarakat untuk berkunjung, museum ogoh-ogoh yang diharapkan menjadi transformasi nilai-nilai dan energi positif bagi pembentukan karakter generasi muda itu tidak akan mudah untuk diwujudkan. Demikian juga harapan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata saat memaparkan program Museum ogoh-ogoh bisa memajukan pariwisata Tabanan Barat, akan terdampar di lahan sepi. (Put)

Komentar