Awig Subak, Minimalkan Alih Fungsi Lahan

TABANAN - Sebagai daerah penyangga ibu kota Bali, Tabanan tidak bisa lepas dari derasnya pembangunan perumahan. Demikian juga pembangunan fisik terkait pariwisata dan pesatnya pertumbuhan penduduk memaksa lahan persawahan beralih fungsi. Namun demikian, Pemerintah Kabupaten Tabanan senantiasa berupaya tetap konsisten mempertahankan diri sebagai lumbung pangan untuk Bali. Pemerintah bersama masyarakat terus membangun kepercayaan diri bahwa pertanian bisa diandalkan untuk menopang kehidupan.Berbagai kebijakanpun diambil baik dengan mengeluarkan Perda sembari mengetatkan aturan dalam perolehan ijin pengembang.

Demikian disampaikan Bupati Tabanan Ni Putu Eka Wiryastuti, Kamis (19/9). Ia mengakui, tidak mudah mencegah alih fungsi lahan ini terutama persawahan. Ketika sawah tak lagi diupayakan untuk menghasilkan, petani bisa cenderung menjualnya disebabkan harga tanah yang terus melambung. Tergiurnya petani beralih menjual tanahnya karena tidak menghasilkan seperti yang diharapkan, dan tingginya harga tanah itu manusiawi. “Ini menjadi tantangan bagaimana mempertahankan lumbung pangan dengan terus memotivasi petani sembari meningkatkan pengetahuan mereka” Ujar bupati.

Ditempat terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikulturan Tabanan, Nyoman Budana mengatakan  dalam menjaga eksistensi tanah pertanian khususnya sawah, pihaknya sudah melakukan pendekatan dengan subak.  “Kita masuk ke ranah aturan di subak dimana alih fungsi lahan dipagari dengan Awig Subak. Kita berharap ini mampu mengerem laju alih fungsi lahan” Ujar Budana.

Dikatakan, tahun 2013, Tabanan telah memberlakukan Perda yang memuat zona lahan abadi untuk tanaman padi. Lahan abadi ini dinilai menjadi solusi mencegah tergerusnya alih fungsi. Selain itu, pengakuan Jatiluwih sebagai bagian dari budaya subak—yang diakui sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO tahun 2012 ini—benar-benar membangkitkan kepercayaan diri masyarakat petani. Meski ada peningkatan alih fungsi, namun dengan jumlah hamparan 22.400 hektar sawah,

Tabanan eksis berproduksi padi, sejak  tahun 2008 Tabanan mengalami surplus, dimana pada tahun 2012 surplus mencapai  49.613 ton. "Untuk mempertahankan Tabanan sebagai lumbung pangannya Bali, kami tidak berhenti untuk melakukan inovasi terintegrasi dalan program yang dicanangkan pimpinan yaitu Gerbang Pangan Serasi" Ujar Budana.

Namun ia mengakui, kendala ketersediaan air bagi petani masih terjadi. Dalam hal ini pihaknya mengajak petani untuk melakukan pola tanam yang tepat sehingga mereka tetap bisa bertani. “Sejatinya yang terjadi bukan kekeringan yang melanda Tabanan, tetapi saat ini memang musim kering, jadi wajar debit air berkirang” Tandas pria asal Desa Angseri ini.

Lebih jauh dijelaskan, dalam upaya intensifikasi pertanian, pemerintah  mengajak petani menyisakan sekitar 1 hektar sawahnya untuk belajar di lapangan bersama tenaga penyuluh. Upaya ini untuk melatih petani agar peka terhadap tanaman padi pilihannya. Dimaklumi, setiap lahan memiliki karakter berbeda sehingga diperlukan semacam sekolah lapangan agar petani semakin paham bagaimana tanaman miliknya diperlakukan. Menurut Budana, sekolah lapangan ini merupakan salah satu program yang mengarahkan pertanian bisa bertahan dengan musim yang makin tak menentu. ”Kami juga menginginkan petani bisa kreatif memperlakukan tanaman dan lahannya dari saling bertukar pikiran antara petani dan penyuluh lapangan,” tuturnya.

Soal penggunaan pupuk organik, Budana menjelaskan, pihaknya tak bisa sekaligus meninggalkan pupuk nonorganik. Hanya saja, ia berjanji pemakaian pupuk nonorganik ini menjadi alternatif terakhir yang diberikan kepada tanaman padi. “Kita mulai dengan memproduksi produk sehat untuk nantinya menjadi produk organik” Jelasnya

Demikian juga, pemerintah kabupaten juga melakukan pendampingan untuk kelompok tani yang memperoleh program simantri. "Disamping memberi pelatihan untuk mengoptimalkan simantri, kita juga menyiapkan anggaran, dengan harapan simantri bisa berjalan baik untuk menghasilkan produk utamanya juga diharapkan menghasilkan produk sampingan misalnya pupuk organik" jelas mantan Kepala Kantor Tanaman Pangan ini.

Bukan hanya itu, di bidang tanaman hortikultura pemerintah telah melakukan berbagai program intensifikasi dalam pengolahan diantaranya untuk peningkatan tanaman hias, tanaman buah, dan pengembangan sayur organik. Demikan halnya dalam bidang fisik dengan melakukan perbaikan infrasturktur seperti menggiatkan  pembangunan jalan subak dan bantuan sarana pertanian. "Dalam Gerbang Pangan Srasi kami bersinergi dengan instansi lain seperti Dinas Kehutanan, Dinas Peternakan dan Kantor Ketahanan Pangan" tandas pria asal Desa Angsri ini.  (Jay)

Komentar